Kewajiban Muslimah kepada Allah SWT


Kewajiban Muslimah kepada Allah SWT | Di era sekarang sudah banyak muslimah yang melakukan aktivitas sebagaimana kaum laki-laki kerjakan seperti, bekerja, sekolah tinggi, dan mengikuti lembaga masyarakat yang mendukung aktivitasnya yang lain.

Namun perlu diperhatikan adalah kewajiban seorang muslimah yang paling utama yaitu melaksanakan kewajiban dari Tuhannya, Allah swt. Apa saja yang harus dilakukan seorang muslimah demi melaksanakan kewajiban Allah swt?

A. MELAKSANAKAN RUKUN ISLAM
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama salah satu pondasi dari agama Islam adalah melaksanakan rukun Islam secara baik dan sempurna. Rukun Islam terdiri atas syahadat, shalat, puasa,zakat, dan haji.
  1. Syahadat adalah pintu masuk dienul Islam dan merupakan cabang iman paling utama. Seperti diriwayarkan Muslim. Rasulullah bersabda: “Iman itu enam puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah perkataan Ia ilaha ilallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan yang ada di jalan”. Syahadat juga merupakan pintu gerbang yang paling utama sebagai seorang muslimah sebelum ibadah-ibadah yang lainnya. Sebagai bentuk pengakuan sebagai hamba Allah swt dan umatnya Nabi Muhammad saw. Selanjutnya ibadah-ibadah yang dikerjakan lainnya tidak akan salah alamat selama di dalam hati tertanam syahadat yang kokoh.
  2. Shalat adalah tiang agama, siapa yang mendirikannya berarti menegakkan Islam dan siapa yang meninggalkan berarti menghancurkan Islam. Shalat pula yang pertama kali dihisab di akherat kelak. Allah swt berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Ankabut:45). Artinya, senantiasa menunaikan shalat pada waktunya dengan memenuhi semua syarat dan rukunnya, juga memperhatikan segala adab dan sunah-sunahnya sehingga dapat memberikan manfaat kepada seorang muslim, yaitu meninggalkan segala perbuatan keji dan munkar.
  3. Puasa. Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah bersabda: “Puasa adalah benteng”. Benteng yang melindungi muslim dari serangan hawa nafsu. Puasa juga merupakan ibadah yang menyucikan jiwa, membersihkan hati, dan menyehatkan tubuh. Barangsiapa yang berpuasa semata-mata menejalankan perintah Allah dan mencari keridhaan-Nya, maka puasa tersebut akan menghapuskan dosa-dosanya dan menjadi sarana untuk mendapatkan surga.
  4. Zakat memliki dua fungsi, yaitu: menekan rasa bakhil dan cinta dunia, sekaligus memberikan santunan kepada orang-orang yang tidak mampu. Zakat merupakan ibadah yang berhubungan dengan harta benda. Melalui zakat akan tercipta keseimbangan sosial, terhapusnya kemiskinan, tejalin kasih sayang, dan saling menghargai.
  5. Haji adalah ibadah yang memiliki multi dimensi. Ada dimensi spiritual karena di dalam ibadah haji ada beberapa amalan yang ditetapkan syariat. Ada dimensi persatuan karena pada even itulah berkumpulnya seluruh ummat muslim di dunia dalam satu tempat dalam satu tujuan: ibadah hanya kepada Allah. Ada pula dimensi pengorbanan karena biaya dan energi untuk menunaikan ibadah haji sangat besar. Ada juga dimensi sejarah karena banyak simbolis terhadap ‘napak tilas’ perjalanan Nabi Ibrahim dan keluarganya.

B. MENYERAHKAN DIRI KEPADA ALLAH

Muslimah diharapkan menyedari bahwa kehidupannya berada dalam genggaman Allah-sebaik-baik pemilik dan sebaik-baik tuan sehingga tidak perlu merasa khawatir akan jodoh, rezeki, dan lain sebagainya.

Kitapun tentu pernah mengetahui kisah para isteri Rasulullah yang menuntut Rasulullah memberikan penghidupan yang layak. Rasulullah pun merasa bingung dan gundah atas permintaan para isteri beliau. Kemudian Allah pun berfirman, seperti yang ada dalam QS Al-Ahzab 28-29, yang intinya memberikan pilihan kepada para isteri: apabila mengharapkan kehidupan dunia dan perhiasan, maka akan dipenuhi keinginannya itu Rasulullah akan menceraikannya da apabila menginginkan Allah dan Rasul-Nya maka Allah akan memberikan pahala yang besar. Dan, para isteri lebih memilih Allah dan Rasul-Nya yang jauh lebih bernilai dari kehidupan dunia dan perhiasan termahal sekalipun. Subhanallah!

Penyerahan diri dibagi menjadi 2 macam: pasif dan aktif. Penyerahan diri secara pasif artinya, pasrah menerima segala ketentuan Allah. Misal, sudah menjadi ketentuan jika kita terlahir sebagai seorang wanita, sekeras apapun kita berjuang menjadi seorang pria, namun pada akhirnya fitrah kita sebagai wanita, yang tulus menerima kewajiban berjilbab, mengandung dan melahirkan anak, dan berbagai macam ketentuan sebagai wanita lainnya. Sedangkan menyerahkan diri secara aktif adalah pasrah terhadap kodrat yang telah Allah tentukan dengan memberdayakannya menjadi potensi yang bermanfaat bagi kehidupan. Maka pahami diri kita dengan mengupas tuntas tentang kewanitaan dari segi ilmu dan amalnya.

C. IKHLAS
“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya, dan segala sesuatu bergantung pada apa yang diniatkan”. (HR. Muslim).

Hadist di atas mendorong kita untuk ikhlas dalam segala perbuatan dan ibadah agar mendapatkan pahala di akhirat dan di dunia. Semua perbuatan baik dan bermanfaat jika diiringi dengan niat yang ikhlas dan hanya mencari keridhaan Allah maka perbuatan tersebut adalah termasuk ibadah. Jika seorang muslimah melandasi setiap amalan hanya karena menginginkan dunia maka ketika gagal akan terluka hatinya. Ini dapat membuat gugur dari medan perjuagannya.

D. SABAR
Kesabaran itu tumbun dari pemahaman. Semakin paham seseorang terhadap sebuah persoalan, maka semakin sabar ia berjalan di atasnya.

Kesabaran itu tumbuh dari kematangan jiwa. Seorang muslimah yang matang jiwanya walaupun dikatakan wanita lebih mengedepankan emosi dari pada logikanya tidak akan terjerumus dalam sikap emosional dalam menghadapi persoalan karena keimanan dan kepahamannya telah mendominasi pribadinya sehigga muncul kearifan.

Menurut Ibnu Taimiyah. Kesabaran ada tida macam, yaitu:
  1. Kesabaran dalam melakukan ketaatan.
  2. Kesabaran untuk tidak melakukan maksiat.
  3. Kesabaran menerima takdir
Dua hadist yang bisa kita jadikan pegangan adalah: “katakanlah ‘aku beriman’ kemudian Istiqomahlah” (HR.Ahmad) dan “Sesungguhnya, kesabaran itu ada pada bentura pertama dari musibah” (HR.Bukhari dan Muslim).

E. MERASA DIAWASI ALLAH
Perasaan manusia senantiasa di awasi Allah akan melahirkan sikap ihsan dalam beramal. Ihasan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah, dan jika kita tidak melihat Allah maka Allah melihatmu dan mengetahui apapun yang ada padamu, bahkan setiap lintasan hati.
Keimanan dan keislaman yang tidak diiringi dengan ihsan tidak akan mendatangkan cinta Allah.

F. PENDEKATAN KEPADA-NYA DENGAN AMALAH SUNNAH

Gunanya amalah sunnah adalah untuk mengekspresikan, menyalurkan cinta, dan keimanan hamba Allah kepada-Nya secara lebih mendalam, sekaligus sebagai pelengkap jika ada kekurangan pada amalan wajib.

Dalam shalat, yang disunnahkan seperti: shalat dhuha, tahajud, rawatib, witir, dan lainnya. Dalam puasa yang disunnahkan adalah: puasa senin-kamis, ayamul bidh, Arafah, dan lainnya.
Hiasi kehidupan dengan ibadah wajib dan tambah kesempurnaannya dengan ibadah sunnah.

G. PERCAYA PENUH KEPADA-NYA
Muslimah diharapkan dapat sepenuhnya percaya kedapa Allah. Kaidahnya, semua persoalan ada jawabannya. Jika pun berbagai pengorbanan telah dicurahkan, maka yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah mensia-siakan amalan ibadah hambanya yang beriman. Yakinlah, Allah akan menolong hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Yakinlah, janji Allah itu pasti.

H. MEMPERBARUI TAUBAT DAN ISTIGHFAR
Taubat artinya kembali. Istighfar adalah memohon ampunan. Allah memberikan kesempatan bagi setiap hamba-Nya untuk kembali jika tersesat. Ampunan dan toleransi masih Allah limpahkan kepada hamba-Nya yang tergelincir dalam kubangan dosa. Taubat dan istighfar adalah satu sifat orang-orang bertakwa.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (Ali-Imran:135).

[229]. Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

[Sumber: Buletin Da’wah Hidayah-Edisi 301 / 01 Jumadil Tsani 1434 H]
[Gambar:http://th04.deviantart.net/fs70/PRE/i/2013/078/0/c/muslimah_making_doa_for_spm_results_by_sirimran-d5ykchn.png]

0 Response to "Kewajiban Muslimah kepada Allah SWT"

Post a Comment

Terimakasih atas kujungannya, silahkan berkomentar dengan baik dan sopan sesuai dengan materi artikel! Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.